Keterbukaan Hati kepada Panggilan Allah
Santo Mikael, Gabriel, dan Rafael sebagai utusan Allah : pembawa kabar, pelindung, dan penyembuh. Mereka mengajak kita agar lebih peka terhadap kehadiran Allah melalui orang lain dan melalui berbagai cara yang seringkali tak terduga.
Renungan Penyuluh Agama Katolik
Selasa, 30 September 2025
Keterbukaan Hati kepada Panggilan Allah
Oleh : Christina Angela Girsang, S.Pd
Penyuluh Agama Katolik ASN Kanwil Kemenag Prov. Riau
Salve, Selamat memasuki Minggu keempat pada Bulan Kitab Suci Nasional ….
Bapak/ibu yang terkasih, hari ini Gereja katolik merayakan Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel, dan Rafael, para utusan Allah yang senantiasa menjadi jembatan antara surga dan bumi. Pada Injil Yohanes (1:47-51) menampilkan Yesus yang memuji Natanael sebagai seorang Israel sejati, yang tidak memiliki kepalsuan di dalamnya. Yesus menegaskan bahwa Natanael akan menyaksikan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia, sebuah gambaran indah bahwa dalam Kristus, surga dan bumi dipersatukan. Pesan ini mengajak kita untuk hidup dengan hati yang tulus, tanpa kepura-puraan, serta membuka diri terhadap kehadiran Allah yang senantiasa hadir melalui firman-Nya melalui sesama. Pesta Malaikat Agung juga menjadi pengingat bahwa Allah selalu menjaga, menuntun, dan menyembuhkan kita, sama seperti Mikael yang melindungi, Gabriel yang membawa kabar sukacita, dan Rafael yang menuntun serta menyembuhkan.
Bapak/ibu yang dikasihi Tuhan, bulan ini semakin bermakna karena bertepatan dengan penutupan Bulan Kitab Suci Nasional. Kitab Suci, seperti malaikat, adalah utusan Allah yang membawa pesan kasih dan keselamatan ke dalam kehidupan kita. Sabda yang kita baca, renungkan, dan hidupi menjadi media yang menghubungkan kita dengan Allah. Oleh karena itu, penutupan bulan Kitab Suci tidak boleh menjadi akhir, melainkan awal baru untuk semakin akrab dengan Sabda Allah, membiarkannya hadir dalam hidup kita untuk menjadi pewarta sabda bagi sesama.
Kita juga ikut merayakan Santo Mikael, Gabriel, dan Rafael sebagai utusan Allah : pembawa kabar, pelindung, dan penyembuh. Mereka mengajak kita agar lebih peka terhadap kehadiran Allah melalui orang lain dan melalui berbagai cara yang seringkali tak terduga. Menjelang Penutupan Bulan Kitab Suci Nasional, kita diingatkan bahwa Kitab Suci bukan buku mati, tapi sabda hidup yang hadir ke dalam hati kita. Kitab Suci hendak menjadi jembatan antara langit dan bumi dalam hidup kita sehari-hari. Kita dipanggil untuk menjadi utusan firman mendengarkan, memaknakan, dan membagikannya. Semoga kita, seperti Natanael, dipandang oleh Kristus sebagai pribadi yang jujur dan tulus, serta berani menjadi utusan-Nya di tengah dunia.
Refleksi Pribadi :
- Seberapa jujur dan terbuka diri kita di hadapan Allah? Apakah ada kepalsuan diri seperti pura-pura saleh, menyembunyikan pergumulan yang belum kita sampaikan kepada-Nya?
- Apakah kita sudah cukup menyadari bahwa Allah, melalui berbagai cara (kitab, doa, sesama), “datang” kepadaku? Apakah kita cukup peka terhadap suara-Nya?
- Dalam keseharianku, apakah kita berani menjadi utusan sabda, bukan hanya mendengarkan firman, tetapi membagikannya melalui perkataan dan tindakan?
- Menjelang akhir bulan Kitab Suci Nasional, bagaimana caraku memperdalam relasi dengan Kitab Suci agar firman itu sungguh diresapi dalam kehidupanku?
